Kamis, 27 Januari 2011

laporan praktikum kimia lingkungan

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

















Disusun oleh:

1. Evi Mustaviah (B1003013)
2. Evi Nurhidayah (B1003014)
3. Febriana Purwandani (B1003015)
4. Ferdian Bulan P. (B1003016)
5. Ferdian Indra S. (B1003017)
6. Feronika (B1003018)









DIREKTORAT PERGURUAN TINGGI
POLITEKNIK BANJARNEGARA
PRODI KESEHATAN LINGKUNGAN
2010

BAB I
PENDAHULUAN

A. ACARA
Judul: Pengenalan Alat

B. TUJUAN
Tujuan dari praktikum yang telah kami lakukan adalah untuk mengetahui nama dan fungsi dari alat-alat kimia yang akan digunakan didalam kegiatan praktikum.

C. TINJAUAN TEORI

• Labu Takar
Digunakan untuk menakar volume zat kimia dalam bentuk cair pada proses preparasi larutan. Alat ini tersedia berbagai macam ukuran.
• Gelas Ukur
Digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Alat ini mempunyai skala, tersedia bermacam-macam ukuran. Tidak boleh digunakan untuk mengukur larutan/pelarut dalam kondisi panas. Perhatikan meniscus pada saat pembacaan skala.
• Gelas Beker
Alat ini bukan alat pengukur (walaupun terdapat skala, namun ralatnya cukup besar). Digunakan untuk tempat larutan dan dapat juga untuk memanaskan larutan kimia. Untuk menguapkan solven/pelarut atau untuk memekatkan.
• Pengaduk Gelas
Digunakan untuk mengaduk suatu campuran atau larutan kimia pada waktu melakukan reaksi kimia. Digunakan juga untuk menolong pada waktu menuangkan/mendekantir cairan dalam proses penyaringan.
• Botol Pencuci
Bahan terbuat dari plastic. Merupakan botol tempat akuades, yang digunakan untuk mencuci, atau membantu pada saat pengenceran.
• Corong
Biasanya terbuat dari gelas namun ada juga yang terbuat dari plastic. Digunakan untuk menolong pada saat memasukkan cairan ke dalam suatu wadah dengan mulut sempit, seperti : botol, labu ukur, buret dan sebagainya.
• Tabung Reaksi
Terbuat dari gelas. Dapat dipanaskan. Digunakan untuk mereaksikan zat zat kimia
dalam jumlah sedikit.
• Kuvet
Bentuk serupa dengan tabung reaksi, namun ukurannya lebih kecil. Digunakan sebagai tempat sample untuk analisis dengan spektrofotometer. Kuvet tidak boleh dipanaskan. Bahan dapat dari silika (quartz), polistirena atau polimetakrilat.
• Rak Untuk tempat Tabung Reaksi
Rak terbuat dari kayu atau logam. Digunakan sebagai tempat meletakkan tabung reaksi.
• Kaca Preparat
Kawat Kasa Terbuat dari bahan logam dan digunakan untuk alas saat memanaskan alat gelas dengan alat pemanas/kompor listrik.
• Penjepit
Penjepit logam, digunakan untuk menjepit tabung reaksi pada saat pemanasan, atau untuk membantu mengambil kertas saring atau benda lain pada kondisi panas.
Spatula
Terbuat dari bahan logam dan digunakan untuk alat Bantu mengambil bahan padat atau kristal.
Kertas Lakmus
Merupakan indikator berbentuk kertas lembaran-lembaran kecil, berwarna merah dan biru. Indikator yang lain ada yang berbentuk cair missal indikator Phenolphtalein (PP), methyl orange (MO) dan sebagainya. Merupakan alat untuk mengukur atau mengetahui tingkat keasaman (pH) larutan.
Gelas Arloji
Terbuat dari gelas. Digunakan untuk tempat zat yang akan ditimbang.
Cawan Porselein
Alat ini digunakan untuk wadah suatu zat yang akan diuapkan dengan pemanasan.
Pipet Pasteur (Pipet Tetes)
Digunakan untuk mengambil bahan berbentuk larutan dalam jumlah yang kecil.
Sikat
Sikat dipergunakan untuk membersihkan (mencuci) tabung.
Pipet Ukur
Adalah alat yang terbuat dari gelas, berbentuk seperti gambar di bawah ini. Pipet ini memiliki skala. Digunakan untuk mengambil larutan dengan volume tertentu. Gunakan propipet atau pipet pump untuk menyedot larutan, jangan dihisap dengan mulut.
Pipet Gondok
Pipet ini berbentuk seperti dibawah ini. Digunkan untuk mengambil larutan dengan volume tepat sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang menggelembung (gondok) pada bagian tengah pipet. Gunakan propipet atau pipet pump untuk menyedot larutan.
Buret
Terbuat dari gelas. Mempunyai skala dank ran. Digunakan untuk melakukan titrasi. Zat yang digunakan untuk menitrasi (titran) ditempatkan dalam buret, dan dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui kran. Volume dari zat yang dipakai dapat dilihat pada skala.








BAB II
ISI

A. Alat
• Buku tulis
• Bolpoint



B. Bahan
• Alat-alat praktikum kimia



C. Cara Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Menyiapkan alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan alat dan bahan
3. Mengamati dan memfoto alat-alat tersebut
4. Mencatat nama dan fungsi alat tersebut
5. Mengumpulkan catatan yang ada
6. Membuat laporan.
















BAB III
HASIL DAN KESIMPULAN

A. HASIL

 Alat menurut bahan:
1. Glass
2. Non glass

 Alat menurut fungsinya:
1. Fungsi utama
2. Fungsi pendukung

 Alat menurut ketelitiannya;
1. Tinggi : contohnya pipet ukur, labu ukur, glass ukur
2. Rendah : contohnya labu Erlenmeyer
3. Sedang : contohnya pipet, beker glass

 NAMA ALAT DAN FUNGSI


Beker gelas 1000 ml Bahan: gelas borosilikat. Volume : 1000 ml. Berskala teratur dan permanen warna putih, tingkatan untuk percobaan siswa.
Kegunaan
Tempat untuk percobaan, proses difusi osmosis


Batang pengaduk Batang gelas, dengan ujung bulat dan ujung yang lain pipih. Panjang 15 cm.
Kegunaan
Pengocok larutan
KGS.02

Beker gelas 100 ml Bahan: gelas borosilikat. Volume : 100 ml. Berskala teratur dan permanen warna putih, tingkatan untuk percobaan siswa.
Kegunaan
Tempat membuat larutan



Boshead Dua pasang tempat jepitan, 2 pasang jepitan yang saling menyilang siku-siku.
Kegunaan
Penjepit klem universal








Erlenmeyer 100 ml Bahan: gelas borosilikat. Volume : 100 ml. Tingkatan untuk percobaan siswa.Mulut sempit.
Kegunaan
Tempat membuat larutan















Kaki tiga Satu ring diamater 80 mm dengan tiga kaki panjang 8 cm. Diameter luar : 8 mm.
Kegunaan
Untuk penyangga pembakar spirtus





Erlenmeyer 250 ml Bahan: gelas borosilikat. Volume : 250 ml. Tingkatan untuk percobaan siswa, mulut lebar.
Kegunaan
Tempat mereaksikan zat dan atau mencampur zat





02 indikator universal strips, satu boks isi: 100; pH: 0-14
Kegunaan
Untuk identifikasi keasamaan larutan/zat dan lainnya.








KK.03
Mortal dan alu Poslen di glasir. Diameter dalam: 8 cm. Alu panjang: 9 cm.
Kegunaan
Menghaluskan zat yang masing bersifat padat/kristal.
KK.03

KU.06
Neraca Kapasitas: 311 g, pan tunggal bahan stainless steel, ketelitian 10 mg. Bahan : Die-casting. Tipe: tiga lengan. cast aluminium body and beam, stainless steal pan and bow.
Kegunaan
Untuk menimbang zat.
KU.06

KGS.08
Pembakar spirtus Kapasitas 100 ml, bertutup untuk mencegah penguapan, bahan kaca.
Kegunaan
Untuk membakar zat atau memanasi larutan.
KGS.08

KK.04
Penjepit tabung reaksi Bentuk rahang: persegi. Pegas : dipoles nikel dengan diameter: 10 -25 mm.
Kegunaan
Untuk menjepit tabung reaksi.
KK.04

KGS.09
Pipa kapiler Diameter: 8 mm. Diameter dalam: 0.8 mm. Panjang 15 cm.
Kegunaan
Untuk mengalirkan gas ke spesimen tertentu.
KGS.09

KK.05
Pipet Filler (pengisap pipet) Tipe: bola karet kenyal dengan 3 knop. Bola karet tidak mudah lembek.
Kegunaan
Untuk menghisap larutan yang akan diukur
KK.05

KGS.10
volumetrik Bahan : gelas borosilikat, berskala tunggal, kelas A, kapasitas: 25 cm3. Jenis: amber.
Kegunaan
Untuk mengukur volume larutan
KGS.10

KGS.11
Pipet tetes
Bahan:Gelas. Panjang: 150 mm dengan karet kualitas baik.
Kegunaan
Untuk meneteskan larutan dengan jumlah kecil.
KGS.11

KK.07
Rak tabung reaksi Bahan: Plastik , jumlah lubang: 40 , diameter: 16 mm
Kegunaan
Tempat tabung reaksi



KK.09
Spatula plastik Bahan: plastik, kedua ujung bundar. Panjang: 150 mm.
Kegunaan
Pengambil zat kristal
KK.09

KK.10
Spatula logam Terbuat dari bahan stainles stail: bibir lonjong, panjang : 150 mm.
Kegunaan
Pengambil zat yang tidak bereaksi dengan logam.
KK.10

KK.10
Statif dasar persegi Dimensii: landasan: 210 x 145 mm.panjang batang: 600 dengan diamater batang: 10 mm. Material : cast iron di cat.
Kegunaan
Merangkai peralatan praktikum
KK.10

KGS.12
Tabung reaksi Bahan: gelas borosilikat, Ukuran: 15 x 150mm. Per pak 50 buah.
Kegunaan
Untuk mereaksikan zat.
KGS.12

KGS.13
Termometer alkohol Jangkauan pengukuran -10 oC – 110 oC.
Kegunaan
Untuk mengukur suhu larutan
KGS.13
KK

KGS.14
Kawat Nikrom Diameter 0.5 mm, panjang: 150 mm, Tangkai pemegang: gelas.
Kegunaan
Untuk megnidentifikasi zat dengan cara uji nyala
KGS.14

KBZ.01
Kertas saring Tingkatan untuk siswa (teknis). Ukuran: 58 x 58 cm,
Kegunaan
Untuk menyaring larutan.
Bahan percobaan, pelarut.


















DAFTAR PUSTAKA

• http://www.jevuska.com/.../makalah+pengenalan+alat+alat+kimia.html - Tembolok
• http://www.minalove.com/.../artikel+pengenalan+alat+alat+dan+bahan+kimia - Tembolok
• http://www.elvinmiradi.com/.../makalah+pengenalan+alat+dan+bahan+kimia.html - Tembolok
• http://www.blogpendidikan.com/.../kesimpulan_pengenalan_alat_lab_kimia_dasar - Tembolok
• http://www.abynoel.wordpress.com/.../pengenalan-alat-labor-kelas-x/ - Tembolok - Mirip
• http://www.filestube.com/p/pengenalan+alat+alat+kimia - Tembolok - Mirip






























BAB I
PENDAHULUAN

A. ACARA
Judul : Penentuan Konsentrasi Larutan
Metode : Titrasi Asam Basa
Prinsip : asam akan dinetralkan oleh basa menggunakan indicator phenol ptealin.


B. TUJUAN
Tujuan dari praktikum yang telah kami lakukan adalah untuk mengetahui cara melakukan titrasi asam basa dengan baik.

C. TINJAUAN TEORI
Titrasi merupakan salah satu aplikasi stoikiometri larutan. Pada umumnya digunakan dalam penenuan konsentrasi asam atau basa (titrasi asam basa atau asidi alkalimetri). Poses ini melibatkan larutan yang konsentrasinya telah diketahui (titran), kemudian larutan ini dikeluarkan dari buret ke dalam larutan yang akan ditentukan konsentrasinya sampai pada titik stoikiometri atau titik ekivalen. Namun pada prakteknya titik ekivalen ini tidak bisa diamati langsung dari percobaan. Yang bisa diamati adalh titik dimana saat warna indikator tepa berubah warna (titrasi dihentikan) yang disebut titik akhir titrasi.
Titrasi merupakan cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan mengukur volumenya secara pasti. Bila titrasi menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi adisi-alkalimetri.Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran.
Jika asam ditetesi basa, maka PH larutan naik, sebaliknya jika larutan basa ditetesi asam maka PH larutan akan turun.larutan asam bila direaksikan dengan larutan basa akan menghasilkan garam dan air. Sifat asam dan sifat basa akan hilang dengan terbentukanya zat baru yang disebut garam yang memiliki sifat berbeda dengan sifat zat asalnya (dalam percobaan ini adalah NaCl) . Karena hasil reaksinya adalah air yang memiliki sifat netral yang artinya jumlah ion H+ sama dengan jumlah ion OH- maka reaksi itu disebut dengan reaksi netralisasi atau penetralan.Pada reaksi penetralan, jumlah asam harus ekivalen dengan jumlah basa. Untuk itu perlu ditentukan titik ekivalen reaksi. Titik ekivalen merupakan keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa. Untuk menentukan titik ekivalen pada reaksi asam-basa dapat digunakan indikator asam-basa. Ketepatan pemilihan indikator merupakan syarat keberhasilan dalam menentukan titik ekivalen. Pemilihan indikator didasarkan atas pH larutan hasil reaksi atau garam yang terjadi pada saat titik ekivalen.Salah satu kegunaan reaksi netralisasi adalah untuk menentukan konsesntrasi asam atau basa yang tidak diketahui. Penentuan konsentrasi ini dilakukan dengan titrasi asam-basa. Titran ditambahkan sedikit demi sedikit (dari dalam buret) pada titrat (larutan yang dititrasi) sampai terjadi perubahan warna indikator. Saat terjadi perubahan warna indikator, maka titrasi dihentikan. Saat terjadi perubahan warna indikator dan titrasi diakhiri disebut dengan titik akhir titrasi dan diharapkan titik akhir titrasi sama dengan titik ekivalen. Semakin jauh titik akhir titrasi dengan titik ekivalen maka semakin besar kesalahan titrasi dan oleh karena itu, pemilihan indikator menjadi sangat penting agar warna indikator berubah saat titik ekivalen tercapai. Pada saat tercapai titik ekivalen maka pH-nya 7 (netral).










BAB II
ISI

A. Alat
Alat yang digunakan adalah:
• Buret dan statif
• Erlenmeyer 250 ml
• Pipet Ukur
• Pipet Tetes
• Corong Gelas
• Bolpoint
• Kertas untuk mencatat


B. Bahan
Bahan yang digunakan adalah:
• Larutan NaOH 0,1 N
• Larutan HCL 0,1 N
• Indicator PP 0,1%


C. Cara Kerja
A. Konsentrasi Larutan Basa (HCL)
1. Mengambil 50 ml sample basa kedalam erlenmeyer
2. Menambahkan 3 tetes indicator PP, dan kemudian warna berubah menjadi merah muda (pink)
3. Memasukan HCL 0,1 N kedalam buret dan mencatat banyaknya sebagai p ml hingga warna menjadi jernih
4. Menghitung mg/l


B. Konsentrasi Larutan Asam (NaOH)
1. Mengambil 50 ml sample asam kedalam Erlenmeyer
2. Menambahkan 3 tetes indicator PP dan warna masih tetap jernih
3. Memasukan larutan NaOH 0,1 N kedalam buret dan melakukan titrasi hingga warna menjadi pink
4. Mencatat banyaknya NaOH sebagai q ml
5. Menghitung menggunakan rumus.





BAB III
HASIL DAN KESIMPULAN



A. HASIL
• Titrasi HCl / basa



































DAFTAR PUSTAKA

• http://www.labipasmanf.files.wordpress.com/2010/04/lkstitrasiasambasa.pdf
• http://www.scribd.com/doc/11383094/Lap-Titrasi-Asam-Basa - Tembolok - Mirip
• http://www.lorpatongpelem.blogspot.com/2010/12/titrasi-asam-basa.html - Tembolok
• http://www.blackdumai.co.cc/.../hasil-laporan-penelitian-titrasi-asam.html - Tembolok



















BAB I
PENDAHULUAN

A. ACARA
Judul : Analisa TSS (Total Suspended Solid)
Metode : Gravimetric

B. TUJUAN
Tujuan dari praktikum yang telah kami lakukan adalah untuk mengetahui cara melakukan

C. TINJAUAN TEORI
Analisis Gravimetric adalah suatu bentuk analisis kuantitatif yang berupa penambangan, yaitu suatu proses pemisahan dan penimbangan suatu komponen dalam suatu zat dengan jumlah tertentu dan dalam keadaan sempurna mungkin.
Secara mendasar gravimetri digolongkan menjadi empat bagian antara lain: gravimetri fisik, thermogravimetri, analisis pengendapan gravimetri, dan elektrodeposisi.
Beberapa hal tentang gravimetri:
1. Waktu yang diperlukan untuk analisa gravimetri, menguntungkan karena tidak memerlukan kalibrasi atau standarisasi. Waktu yang diperlukan dibedakan menjadi 2 macam yaitu: waktu total dan waktu kerja.
2. Kepekaan analisa gravimetri, lebih ditentukan oleh kesulitan untuk memisahkan endapan yang hanya sedikit dari larutan yang cukup besar volumenya.
3. Ketepatan analisa gravimetri, untuk bahan tunggal dengan kadar lebih dari 100 % jarang dapat ditandingi perolehannya.
4. Kekhususan cara gravimetri, pereaksi gravimetri yang khas (spesifik) bahkan hampir semua selektif dalam arti mengendapkan sekelompok ion.

Banyaknya komponen dari suatu analisis biasanya ditentukan melalui hubungan massa atom, massa molekul dan berat senyawa. Contoh : penentuan ion besi dalam suatu cuplikan. Pemisahan ion besi dilakukan dengan mereaksikan cuplikan de NH4OH sehingga terbentuk endapan Fe(OH)3 apabila berat cuplikan adalah A gram, berat senyawa Fe(OH)¬3 adalah a gram, maka persen Fe dalam Cuplikan adalah Terkadang senyawa yang ditimbang berbeda dengan senyawa yang dipisahkan dalam hal rumusnya.

Misal rumus kimia dari senyawa yang dipisahkan MgNH4PO4 setelah dipijarkan dan didinginkan ditimbang sebagai senyawa Mg2P2O7 kita misalkan berat cuplikan = B gram. Berat senyawa yang ditimbang = b. Maka akan diperoleh rumus : Catatan : angka 0,5234 dan 0,2162 adalah faktor kimia atau faktor Gravimetri.
Metode dalam Analisis Gravimetri adalah :
Metode Pengendapan
Metode Penguapan
Metode Elektrolisis



A.1. Metode Pengendapan
Pembentukan endapan dibedakan menjadi 2 macam yaitu:
1. Endapan dibentuk dengan reaksi antar analit dengan suatu pereaksi, biasanya berupa senyawa baik kation maupun anion. Pengendapan dapat berupa anorganik maupun organic
2. Endapan dibentuk cara elektrokimia (analit dielektrolisa), sehingga terjadi logam sebagai endapan, dengan sendiri kation diendapkan.
Keadaan optimum untuk pengendapan
Untuk memperoleh keadaan optimum harus mengikuti aturan sbb:
a. Pengendapan harus dilakukan pada larutan encer, yang bertujuan untuk memperkecil kesalahan akibat koresipitasi.
b. Peraksi dicampur perlahan-lahan dan teratur dengan pengadukan tetap.
c. Pengendapan dilakukan pada larutan panas bila endapan yang terbentuk stabil pada temperatur tinggi.
d. Endapan kristal biasanya dibentuk dalam waktu yang lama dengan menggunakan pemanas uap untuk menghindari adanya koprespitasi.
e. Endapan harus dicuci dengan larutan encer.
f. Untuk menghindari postpresipitasi atau kopresipitasi sebaiknya dilakukan pengendapan ulang

Syarat- syarat endapan gravitasi
1. Kesempurnaan pengendapan: Pada pembuatan endapan harus diusahakan kesempurnaan pengendapan tersebut dimana kelarutan endapan dibuat sekecil mungkin.
2. Kemurnian endapan (kopresipitasi): Endapan murni adalah endapan yang bersih, tidak mengandung, molekul-molekul lain (zat-zat lain biasanya pengotor atau kontaminan)
3. Endapan yang kasar: Yaitu endapan yang butir-butirnya tidak keecil, halus melainkan
4. Endapan yang bulky: Endapan dengan volume atau berat besar, tetapi berasal dari analit yang hanya sedikit.
5. Endapan yang spesifik: Pereaksi yang digunakan hanya dapat mengendapkan komponen yang dianalisa.

Macam-macam endapan
1. Endapan koloid AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(s) + NaNO3(AQ) NaCl akan mengendapkan reagent: AgCl pembentukan endapan koloid (amorf)
2. Endapan kristal: Endapan tipe ini lebih mudah dikerjakan karen mudah disaring dan dibersihkan.
3. Endapan yang dibawa oleh pengotor (Co precipitation). Sumber-sumber Co prepicitation:1) absorbi permukaan, 2) pembentukan campuran kistal, 30 mekanika.
Napan homogen (homogenous precipitatoin): Endapan homogen adalah cara pembentukan endapan dengan menambahkan bahan pengandap tidak dalam bentuk jadi melainkan sebagai suatu senyawa yang dapat menghasilkan pengendap tersebut. Contoh: homogenos prepicitation tidak digunakan etil oksalat (C2H5O)C2O yang tidak dapat mengion menjadi C2O42- tetapi harus terhidrolisa sbb:
(C2H5O)2C2O4 + 2H2O 2C2H5OH + H2C2O4

Pengotoran endapan
Macam-macam pengotor yang dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Pengotoran karena pengendapan sesungguhnya adalah:
• Pengendapan bersama (simultaneous precipitation). Kotoran mengendap bersama waktu dengan endapan analit. Contoh: Al(OH) sebagai pengotor Fe(OH)3.
• Pengendapan susulan (post precipitation).
Pengotoran karena terbawa (Co-precipitation). Pengotoran ini tidak mengendap melainkan hanya terbawa ole endapan analat.

2. Kotoran isomorf dan dapat campur dengan inang ini dapat terjadi bila bahan pengotoran dan endapan mempunyai kesamaan tipe rumus molekul maupun bentuk molekul.

3. Kotoran larut dalam inang dimana zat sendiri larut dalam zat padat lalu ikut terbawa sebagai kotoran. Contohnya Ba(NO3)2 dan KNO3 yang larut dalam BaSO4 pada kedua jenis pengotoran diatas kotoran tersebar diseluruh kristal.
4. Kotoran teradsorpsi pada permukaan endapan. Terjadi karena gaya tarik menarik antara ion yang teradsorpsi dan ion-ion lawannya pada permukaan endapan
5. Kotoran teroklusi oleh inang (terkurung). Dapat terjadi apabila kristal tumbuh terlalu cepat dari butirn kecil menjadi besa dalam hal ini ion tidak sempat dilepaskan, tetapi sudah tertutup dalam kristal.

Usaha mengurangi pengotor:
1. Sebelum membentuk endapan dengan jalan menyingkirkan bahan-bahan yang akan mengotori
2. Selama membentuk endapan. Endapan hanya terbentuk bila larutan yang bersangkutan lewat jenuh terhadap endapan tersebut yaitu larutan mengandung zat itu melebihi konsentrasi larutan jenuh, dengan tahap-tahap sebagai berikut:
Tahap I: Pada pengembangan ialah nukleai dalam hal ini ion-ion dari molekul yang akan diendapkan mulai terbentuk inti yaitu pasangan beberapa ion menjadi butir-butir miniskus (sangat kecil).
Tahap II: Pertumbuhan kristal yaitu inti tersebut menarik molekul lain sehingg dari kumpulan hanya beberapa molekul tumbuh menjadi butiran lebih besar





Tahap tahap dari Metode Pengendapan:
1. Tambahkan pereaksi pada cuplikan
2. Pisahkan komponen yang akan dianalisis dengan pengendapan
3. Ditapis
4. Cuci dengan Elektrolit yang mengandung ion sejenis untuk menghilangkan kotoran-kotoran pada permukaan dan juga mencegah peptisasi.
5. Untuk mengetahui kadar kotoran setelah pencucian bisa dicari dengan rumus
keterangan: Cn = konsentrasi kotoran setelah dicuci sebanyak n kali
Co = konsentrasi kotoran sebelum dicuci
U = Volume sisa stelah endapan dikeringkan
V = Volume Cairan yang digunakan setiap pencucian
6. Panaskan
Alat yang biasanya digunakan sebagi penapis dalam analisis gravimetri adalah : kertas Saring, Gelas Sinter, krus gooch. Alat pemanasnya adalah Oven listrik dan tungku. Selain alat-alat diatas ada pula alat yang disebut Eksikator dengan fungsi untuk menyimpan suatu bahan agar memiliki kadar air yang tetap. Pereaksi yang digunakan dibagi dua: A.1.1. Pereaksi Organik
7. A.1.2 Pereaksi Anorganik
A.1.1. Pereaksi Organik
Prinsipnya dengan ion logam tertentu dapat membentuk senyawa komplek organik dengan massa molekul relatif tinggi, sehingga dengan ion logam yang sedikit didapat endapan logam yang banyak. Adapun beberapa pereaksi organik yang biasa digunakan yaitu : dimetilglioksin, α-benzeinoksin, Kupferron, 8-hidroksikuinolin, Asam antranilat, natriumdietilditiokarbonat.
A.1.2. Pereaksi Anorganik

Senyawa Anorganik yang digunakan dalam proses pengendapan adalah :
Asam Klorida à untuk pengendapan ion logam golongan IHidrogen Sulfida (dalam HCl encer) à untuk mengendapkan ion logam golongan IIH2S dalam keadaan Buffer Amoniak à untuk pengendapan ion logam golongan III B Buffer Amoniak à untuk pengendapan ion logam golongan III AGaram Amonium Karbonat (NH4)¬2CO3 (dalam Buffer Amoniak) à untuk pengendapan ion logam golongan IV Natrium Fosfat ( dalam buffer Amoniak) à untuk mengendapkan Ion Mg dari Magnesium Amonium Fossfat MgNH4PO4.6H2O Garam Uranil Magnesium Asetat à mengendapkan ion Na endapan kuning dari garam NaMg(UO2)3(C2H3O2)9 Natrium kokaanitritekbaltat (III) à ntuk mengendapkan Ion K dari K2NaCe(NO2)6.

A.1.3 Pemisahan Ion Logam Dalam Proses Pengendapan.

Pemisahan ion logam pada pengendapan bertingkat yang lebih penting yaitu :
a. pengendapan sebagai garam sulfide
Pengendapan Sebagai Sulfida
Misalkan larutan jenuh H2S (Ka1 = 9,1 x 10-8 ; Ka2 = 1,2 x 10-15 pada suhu 250C dan tekanan 1 atm mempunyai konsentrasi 0,1 M. apabila [H+] = [HS-] dan konsentrasi H2S = 0,1 M maka:
[H+] = [HS-] =
[S2-] = 1,2 x 10-15 M = Ka2
Menurut proses ionisasi
H2S 2 H+ + S2-
Ternyata besarnya konsentrasi sulfida bergantung pada besarnya ion hydrogen dalam larutan, sehingga konsentrasi sulfida bisa diatur dengan merubah konsentrasi hidrogen.
Pengendapan ion logam [Mn+] sebagai garam sulfidanya [M2Sn] apabila hasil kali kelarutan ion-ion logamnya dengan ion sulfidanya lebih besar dari harga
Ksp garam sulfidanya. Dan besarnya ion logam yang tertinggal dalam larutan bisa dihitung : [Mn+]=
b. Pengendapan Ion Logam sebagai Hidroksida pada pH tertentu
Tergantung pada Ksp ion Hidroksida dan konsentrasi ion OH- dari pereaksinya dan juga tergantung dari pH larutannya. Besar pH suatu larutan bisa diatur dengan menambahkan garamnya.
Campuran buffer amoniak dapat digunakan untuk menahan pengendapan Mg2+ sebagai Mg(OH)2 yang harga Ksp-nya 1,5x10-11
Misalnya : pengendapan ion Mg2+ sebagai Mg(OH)2 dari larutan yang mengandung Mg2+ dengan konsentrasi 0,1 M. maka besarnya OH- yang diperlukan adalah :
[OH-] <
Jadi besarnya pOH harus dibawah –log 1,225x10-5
Jika konsentrasi tersebut berasal dari NH4OH maka garam NH4Cl yang dibutuhkan adalah


A.2. Metode Penguapan

Digunakan untuk menetapkan komponen-komponen dari suatu senyawa yang relatif mudah menguap. Yaitu dengan cara: Pemanasan dalam udara atau gas tertentu, Penambahan pereaksi sehingga mudah mengua, Penambahan pereaksi sehingga tidak mudah menguap Zat-zat yang relatif mudah menguap bisa diabsorpsi dengan suatu absorben yang sesuai dan telah diketahui berat tetapnya.
Untuk penentuan kadar air suatu kristal dalam senyawa hidrat, dapat dilakukan dengan memanaskan senyawa dimaksud pada suhu 110O- 130O C. Berkurangnya berat sebelum pemanasan menjadi berat sesudah pemanasan merupakan berat air kristalnya. Asal senyawa tidak terurai oleh pemanasan. Atau bisa juga menggunakan zat pengering seperti : CaCl2, Mg(ClO4)2. Penentuan CO2 dalam senyawa karbonat dapat dilakukan dengan penambahan HCl berlebih, kemudian dipanaskan.gas CO2 yang sudah terjadi dialirkan dalam larutan alkali yaitu KOH (25-30%) atau larutan CaOH2 yang telah diketahui beratnya.

Penentuan NH3 dalam garam Amonium, yaitu garam ditambahkan larutan alkali kuat berlebih dan dipanaskan. Gas NH3 yang terjadi dialirkan dalam larutan standar asam berlebih kemudian kelebihannya dititrir dengan larutan standar basa.
Penentuan Nitrogen dalam protein, mula-mula senyawa didestruksi dengan H2SO4 pekat. Hasilnya ditambahkan basa berlebih dan dipanaskan. Selanjutnya kelebihan asam dititrir dengan larutan standar basa.
Penentuan unsur Natrium atau Kalium, yaitu larutan itu diuapkan dengan H2SO4 sampai kering. Kemudian sisanya berupa garam sulfat ditimbang. Dan segitulah berat unsur yang dicari. Unsur-unsur lain yang mengganggu seperti Si, dapat ditentukan dengan memanaskan cuplikan bersama H2SO4 dan HF dalam krus platina. Dimana Si berubah menjadi SiF4 yang menguap, sesuai persamaan
SiO2 + 6HF à H2SiF6 + 2H2O
H2SiF6 à SiF4 + 2HF
.
A.3. Metode Elektrolisis

Prinsipnya senyawa ion yang akan diendapkan dipisahkan secara elektrolisis pada elektrode-elektrode yang sesuai. Sehingga jika elektrolisisnya cermat dapat terhindar dari peristiwa kopresipitasi dan post-presipitasi.
A.3.1 Hukum Dasar dalam Elektrolisis
Hukum dasar yang digunakan dalam metode ini adalah : Hukum Faraday dan Hukum Ohm.

• Hukum Faraday I
Menyatakan hubungan antara banyaknya zat yang terendap atau terbebas pada elektroda dengan banyaknya listrik yang diperlukan pada proses tersebut.
W = e x Q/F W = Jumlah zat terendap/terbebaskan (gr)
Q = Jumlah listrik yang dibutuhkan (Colloumb)
e = berat ekivalen Elektrokimia
Berat Ekivalen elektrkimia adalah bilangan yang menyatakan banyaknya zat yang terendap atau oleh listrik sebanyak 1 colloumb.
Contoh : arus 0,2 colloumb dialirkan pada dua keping tembaga (Cu) yang telah ditentukan massa tetapnya. Dan dicelupkan dalam garam Kuprisulfat (CuSO4) selama t detik. Kemudian dicuci dan dikeringkan serta ditimbang, ternyata beratnya lebih berat dari pada sebelum dielektrolisis. Karena adanya logam Cu yang terendapkan pada elektroda. Dimana banyaknya logam Cu yang terendapkan bertambah setiap penambahan arus maupun waktu. Adapun listrik yang dibutuhkan adalah : Q = i x t dengan i = arus, t = waktu dan Q = listrik yang dibutuhkan.

• Hukum Faraday II

Menyatakan Hubungan antara banyaknya zat terendap atau terbebaskan pada elektrolisis bertahap dalam seri larutan.
Bunyi hukumnya : ”banyaknya zat terendap atau terpisahkan dari masing-masing elektroda yang disebabkan oleh listrik yang sama banyaknya dan mengalir dalam seri larutan adalah sebanding dengan berat ekivalen kimianya”
Misalnya : arus 1 amper dialirkan dalam suatu seri larutan : kupri sulfat (CuSO4) dan perak nitrat (AgNO3) dalam waktu t, banyaknya logam Cu dan Ag yang terendapkan pada masing-masing elektroda

• Hukum Ohm
Menyatakan hubungan antar tiga besaran listrik yaitu : tegangan (E), arus (I) dan tahanan (R) yang memenuhi persamaan



A.3.2 Tegangan Peruraian
Misalnya tegangan 0,5 Volt digunakan pada 2 buah elektroda platina halus yang masing-masing dicelupkan dalam larutan H2SO4 1M, maka amperemeter akan menunjukan adanya arus yang mengalir pada larutan. Jika tegangan diperbesar maka aruspun bertambah. Sehingga pada tegangan tertentu arus akan naik secara cepat. Pada saat ini timbul gelembung-gelembung pada elektroda.
Tegangan peruraian adalah besarnya tegangan luar minimum yang harus diberikan agar terjadi proses elektrolisis yang kontinyu.

Jika Arus diputus, tegangan pada voltmeter tidak berubah, tetapi semakin lama arus makin lemah dan pada akhirnya nol. Pada saat itu sel E berfungsi sebagai sumber arus dan tegangannya disebut tegangan Polarisasi. Dilihat dari besarnya tegangan peruraian larutan asam dan basa dapat disimpulkan bahwa pada proses elektrolisis larutan asam dan basa relatif sama, yaitu terjadinya proses pembebasan gas.


A.3.3. Reaksi Elektroda
Elektroda Pt dan C Pada katoda terjadi proses Reduksi dan pada Anoda terjadi proses Oksidasi.
a.Proses Reduksi pada Katoda
Jika Larutan mengandung
a.1. Ion logam alkali, alkali tanah, Al3+,Mn2+, didalam larutan ion-ion tersebut tidak dapat tereduksi. Sehingga palrtlah yang akan mengalami reduksi.
2 H2O + 2 e- à 2 OH- + H2
a.2. Asam, ion H+ dari asam tersebut akan tereduksi menjadi gas H2 2 H+ + 2 e- à H2
a.3. ion logam lain selain poin a.1, dimana ion tersebut akan tereduksi menjadi logam bebasnya.
Zn++ + 2e- + à Zn
Ag+ + e- à Ag

b.Proses Oksidasi pada Anoda
Apabila larutan mengandung :
b.1. ion halida, akan tereduksi menjadi halogen
2 Hal- à Hal2 + 2 e-
b.2. ion OH- dari suatu basa, teroksidasi menjadi okisigen.
4 OH- à 2 H2O + O2 + 4 e-
b.3. Anion lain selain halogen dan OH-, ion tersebut tidak teroksidasi sehingga pelarutnya yang teroksidasi.
Elektroda selain Pt dan C
Logam lainnya yang biasa digunakan sebagai elektroda adalah : Cu, Zn, Fe, Au dan lain-lain. Perbedaan dengan elektroda Pt dan Cu yaitu hanya pada reaksi Anodanya sedang katodanya relatif sama. Dimana anodanya teroksidasi menjadi ionnya. Contoh: elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektroda Zn.
Reaksi anodanya : Zn à Zn2+ + 2 e-
Contoh menentukan tegangan peruraian
K dalam larutan molar ZnBr2, dicelupkan elektroda Pt yang halus.dan diberikan beda potensial sehingga terjadi proses elektrolisis. Dimana pada katoda berlangsung proses : Zn2+ + 2 e- à Zn dan pada anoda : 2 Br- Br2 + 2 e-

A.3.4. Tegangan Kelebihan
Pada kenyataannya besarnya tegangan peruraian tergantung pada jenis elektroda yang digunakan dan biasanya ebih tinggi dari yang dihitung dengan rumus diatas. Perbedaan besarnya tegangan tersebut yang disebut tegangan kelebihan. Dengan adanya tegngan tersebut maka tegangan peruraian menjadi :
dengan Eekat = tegangan kelebihan pada katoda, dan Eeand = tegangan kelebihan pada anoda. Besarnya tegangan kelebihan baik pada katoda mapun anoda merupakan fungsi dari : Jenis dan sifat fisik logam dari elektroda
Sifat fisik zat yang terendap atau terbebas, jika logam tegangan kelebihannya kecil dan jika gas relatif lebih besar Kerapatan arus yang digunakan Perubahan konsentrasi larutan

A.3.5. Pengendapan Sempurna
Perubahan tegangan pada pada katoda selama proses elektrolisis, terutama pada proses pengendapan, besarnya potensial katoda dinyatakan dengan persamaan Nernst.
Besarnya potensial ini tidak bergantung pada besarnya konsentrasi ion logamnya tetapi tergantung dari biloks ion logam dalam larutan. Jika ion logam selama proses telah tereduksi 10-4 Kali proses semula, maka untuk ion logam:
Univalent potensial katodanya akan berubah sebesar 4 x 0,591 Volt..



BAB II
ISI

A. Alat
Alat yang digunakan adalah:
• Gelas Ukur
• Kertas Saring
• Labu Erlenmeyer
• Desikator
• Corong Gelas
• Neraca Analitic
• Pinset
• Bolpoint
• Kertas Untuk Mencatat


B. Bahan
Bahan yang digunakan adalah:
• Air Keruh

C. Cara Kerja
1. Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Memanaskan kertas 105 oC
3. Setelah itu masukan kedalam desikator selama 15 menit
4. Menimbang kertas (a mg) dan gunakan sebagai filter
5. Menambahkan sample 50 ml
6. Mengambil kertas oven 105 oC
7. Memasukan kedalam desikator selama 15 menit
8. Menimbang sebagai (b mg)













BAB III
HASIL DAN KESIMPULAN


















DAFTAR PUSTAKA

• http://www.sitzkrieg-awan.blogspot.com/.../kimia-makalah-gravimetri.html - Tembolok - Mirip
• http://www.tenangjaya.com/.../KIMIA-UNIPA%3A-makalah-gravimetri.html - Tembolok

















BAB I
PENDAHULUAN

A. ACARA
Judul : Analisa TDS (Total Disolved Solid)

B. TUJUAN
Tujuan dari praktikum yang telah kami lakukan adalah untuk mengetahui cara melakukan

C. TINJAUAN TEORI



















BAB II
ISI

A. Alat
Alat yang digunakan adalah:
• Cawan Porselin

B. Bahan
Bahan yang digunakan adalah:
• Sample air yang lolos di kertas saring


C. Cara Kerja
1. Memasukan cawan dalam oven 105 oC
2. Setelah itu masukan kedalam desikator selama 15 menit
3. Menimbang cawan (d mg)
4. Memasukan air sample kedalam cawan tersebut
5. Mengasatkan dalam waterbath
6. Panaskan dalam oven 105 oC
7. Memasukan kedalam desikator
8. Menimbang cawan sebagai ( e mg)



BAB III
HASIL DAN KESIMPULAN


DAFTAR PUSTAKA















BAB I
PENDAHULUAN

A. ACARA
Judul : Analisa Volume Lumpur
Metode : Kerucut

B. TUJUAN
Tujuan dari praktikum yang telah kami lakukan adalah untuk mengetahui cara melakukan

C. TINJAUAN TEORI















BAB II
ISI

A. Alat
Alat yang digunakan adalah:
• Kerucut imhof

B. Bahan
Bahan yang digunakan adalah:
• Air Keruh

C. Cara Kerja
1. Memasang kerucut imhof kedalam statif
2. Memasukan air sample sampai batas 1000 ml
3. Menunggu selama 60 menit
4. Menghitung banyaknya endapan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar